Only human. Wanna be better.



Thursday, August 9, 2012

LELAKI YANG KU CINTA


Pergi selalu bersama
Makan sepiring berdua
Siang membolong, malam melowong tanpanya.

Aku runyam dia tau.
Aku kesal dia terasa.
Aku marah dia sedih.
Aku sedih dia diam.

Tak akan tega membiarkannya pergi dariku.
Tak akan rela melepasnya lama dari dekapku.
Tak peduli yang lain jengkel akan ulahku.
Aku tetap mau ia terus disisiku.

Sampai nanti ia yang melepasku.
Sampai nanti ada yg lebih dicintanya dariku.
Sampai nanti aku cemburu.

Ia tetap lelaki yang kucinta.
Seerat tali yang menghubung kami saat ia singgah dalam rahimku.


Bubu loves you, Tsabit.


Sunday, May 6, 2012

Sudah Seharusnya Orang Tahu



Curhat tentang ‘The hard-line Islam Defender Font’




           “Aku mau minta bantuan ke FPI”

Kalimat yang keluar dari mulut suamiku siang itu sungguh membuat hati semakin runyam. Karena memang keluar dari mulut orang yang sedang runyam. Sudah seminggu ini perasaan takut mendera seluruh penghuni rumah kami. Sejak kedatangan enam preman (yang kebetulan bersuku ambon) datang mengancam kami dengan alasan yang tak mungkin kujelaskan di sini. Yang jelas, Orang tuaku, suamiku, dan aku sendiri --yang menjadi penadah tampias sasaran preman-preman itu-- berani berkata dengan tegas “kami tidak bersalah!”.

Thursday, February 2, 2012

Kenyataan Terkisah


Siang yang panas. Deru debu menguap di sepanjang terminal blok M.
Kehadiran Kopaja mengakhiri penantian separuh waktu di trotoar.
Masih tersisa beberapa bangku kosong. Kupilih yang dekat dengan pintu keluar agar kaki masih bisa bernafas lega meski masih harus menekuk.
Kopaja melaju lambat seperti gajah yang tak kuat menahan berat bobotnya sendiri.

Friday, January 20, 2012

BESAR PASAK DARIPADA TIANG



Guru menggoreskan kapurnya dengan lincah ke papan tulis.

Murid: Peribahasa juga bu?
Guru: Iya. Artinya adalah lebih besar pengeluaran daripada pemasukan.
Murid: boros dong?
Guru: betul. Lebih banyak kata yang keluar daripada yang masuk.

Murid mengernyitkan dahinya.

Tuesday, November 15, 2011

terakhir





Berguru pada belukar
Belum lagi pintar, jejak cabikan di kulit t’lah menyebar

Berniat maju berperang
Malamnya mati terbunuh teman seranjang

Tak mengapa aku di goa
Membawa semua senjata, pergi tidur tanpa mimpi
Lebih baik di sini
Sembunyi, menenangkan diri
Hanya Aku, dan Nurani






Saturday, October 8, 2011

kamu

Ini malam ke 260 setelah keputusan sidang itu. Leganya aku bisa lepas dari cengkramanmu. Tapi bencinya aku yang tak bisa melepaskan pikiran tentangmu.
Untuk apa aku peduli pada apa yang tak seharusnya kupedulikan...

Ku tarik laci meja, mengambil sebuah kertas remuk hasil remasanku sendiri. Kertas surat yang tak sanggup sampai ke tangan tujuannya. Kurapikan perlahan.
Dan mulai membaca...


Kamu perlu tahu.
Keputusanku ini sudah bulat.
Semoga kamu bisa mengerti.
Ini semua juga karena kamu.

Kamu yang egois. Tak mau peduli apa isi hatiku. Waktumu habis di meja kerja, ketimbang jalan bersamaku. 

Kamu hanya menuntutku untuk bersabar dan bersabar.

Selalu saja melarangku melakukan yang lebih dari kemampuanku.

Kamu terlalu cuek dan tak pernah punya keinginan untuk ku berikan hal yang spesial.

Kepalamu penuh dengan prinsip-prinsip yang sulit ku mengerti. Kemana jalan pikiranmu pun sulit kulacak.

Aku benci diam mu diantara jeritanku. 

Kamu biarkan aku tersiksa dalam penyesalan atas segala tuduhan yang ku semburkan padamu.

Kamu malah balas menyerangku begitu tajam dengan semua senjata cintamu.

Kamu begitu keras dan tak pernah mau menyerah untuk mempertahankan adanya kita.

Kamu sungguh nekat, berani mencintaiku. Sungguhpun kamu tahu, adalah aku seorang yang keras diluar namun lemah di dalam.

Dan kamu tega menjadikanku sasaran utama di setiap motivasi hidupmu.

Seenaknya saja kamu meluapkan keluhan tentang betapa tak bergunanya lagi semua, tanpa adanya aku.

Kamu terlalu pelit memberikan peluang untukku menemukan kurangmu.

Kamu dengan sembrono meninggalkan bekas-bekas kenangan indah di kepalaku.

Aku benci caramu mencintaiku. Aku benci menerima kenyataan bahwa aku pun mencintaimu. 
Jadi mungkin lebih baik aku keluar dari kehidupanmu.

Tak perlu kau sesalkan semua yang terjadi antara kita. Anggap saja tak ada. Tak pernah ada. Satu-satunya yang kusesali adalah saat aku mengenal cintamu. 



...Mataku memberat. Untuk kesekian kalinya kuyakinan diri, ada yang salah dengan tulisanku itu.

Ku angkat kepala tinggi-tinggi, menengadah ke atap rumah demi berjuang keras menahan gumpalan air yang menggenang di pelupuk mata. Sambil berharap gumpalan air ini adalah kamu. Yang masih terus hadir saat sedihku, seberapapun kuatnya penolakanku.
Ku tahan mata agar tak terpejam meski perih dan semakin memburam.
Karena jika sampai genangan itu keluar, maka mustahil untuk bisa masuk kembali.

Tahan air matamu... Tahan...

Wednesday, September 14, 2011

ART LIFE

Saat sedang berkecil hati, lihat ke bawah.
Saat sedang bertinggi hati, lihat ke atas.
Kalau hati dirasa stabil, lihat ke depan.
Berlari setelah berjalan, berjalan setelah berdiri.

Saat lari sudah sangat kencang, berhenti sebentar.
Atur nafas, istirahat dan lihat sekitar.
Kalau merasa masih butuh istirahat, itu waktu yang tepat untuk memulai lagi.

Lihat ke bawah, ke atas, ke depan, berdiri, berjalan, berlari, sampai harus berhenti.
Untuk siap-siap memulai lagi.