Only human. Wanna be better.



Showing posts with label Story. Show all posts
Showing posts with label Story. Show all posts

Thursday, February 2, 2012

Kenyataan Terkisah


Siang yang panas. Deru debu menguap di sepanjang terminal blok M.
Kehadiran Kopaja mengakhiri penantian separuh waktu di trotoar.
Masih tersisa beberapa bangku kosong. Kupilih yang dekat dengan pintu keluar agar kaki masih bisa bernafas lega meski masih harus menekuk.
Kopaja melaju lambat seperti gajah yang tak kuat menahan berat bobotnya sendiri.

Saturday, October 8, 2011

kamu

Ini malam ke 260 setelah keputusan sidang itu. Leganya aku bisa lepas dari cengkramanmu. Tapi bencinya aku yang tak bisa melepaskan pikiran tentangmu.
Untuk apa aku peduli pada apa yang tak seharusnya kupedulikan...

Ku tarik laci meja, mengambil sebuah kertas remuk hasil remasanku sendiri. Kertas surat yang tak sanggup sampai ke tangan tujuannya. Kurapikan perlahan.
Dan mulai membaca...


Kamu perlu tahu.
Keputusanku ini sudah bulat.
Semoga kamu bisa mengerti.
Ini semua juga karena kamu.

Kamu yang egois. Tak mau peduli apa isi hatiku. Waktumu habis di meja kerja, ketimbang jalan bersamaku. 

Kamu hanya menuntutku untuk bersabar dan bersabar.

Selalu saja melarangku melakukan yang lebih dari kemampuanku.

Kamu terlalu cuek dan tak pernah punya keinginan untuk ku berikan hal yang spesial.

Kepalamu penuh dengan prinsip-prinsip yang sulit ku mengerti. Kemana jalan pikiranmu pun sulit kulacak.

Aku benci diam mu diantara jeritanku. 

Kamu biarkan aku tersiksa dalam penyesalan atas segala tuduhan yang ku semburkan padamu.

Kamu malah balas menyerangku begitu tajam dengan semua senjata cintamu.

Kamu begitu keras dan tak pernah mau menyerah untuk mempertahankan adanya kita.

Kamu sungguh nekat, berani mencintaiku. Sungguhpun kamu tahu, adalah aku seorang yang keras diluar namun lemah di dalam.

Dan kamu tega menjadikanku sasaran utama di setiap motivasi hidupmu.

Seenaknya saja kamu meluapkan keluhan tentang betapa tak bergunanya lagi semua, tanpa adanya aku.

Kamu terlalu pelit memberikan peluang untukku menemukan kurangmu.

Kamu dengan sembrono meninggalkan bekas-bekas kenangan indah di kepalaku.

Aku benci caramu mencintaiku. Aku benci menerima kenyataan bahwa aku pun mencintaimu. 
Jadi mungkin lebih baik aku keluar dari kehidupanmu.

Tak perlu kau sesalkan semua yang terjadi antara kita. Anggap saja tak ada. Tak pernah ada. Satu-satunya yang kusesali adalah saat aku mengenal cintamu. 



...Mataku memberat. Untuk kesekian kalinya kuyakinan diri, ada yang salah dengan tulisanku itu.

Ku angkat kepala tinggi-tinggi, menengadah ke atap rumah demi berjuang keras menahan gumpalan air yang menggenang di pelupuk mata. Sambil berharap gumpalan air ini adalah kamu. Yang masih terus hadir saat sedihku, seberapapun kuatnya penolakanku.
Ku tahan mata agar tak terpejam meski perih dan semakin memburam.
Karena jika sampai genangan itu keluar, maka mustahil untuk bisa masuk kembali.

Tahan air matamu... Tahan...

Thursday, September 1, 2011

Di Mana?

Seorang anak menulis surat untuk ibunya. Karena begitu sulit menemukan waktu untuk dapat mengutarakan isi hati yang selama ini sesak menghambat jalan napasnya.
Bu, maaf  aku mesti nulis gini. Aku ga pernah bisa ngomongin ini langsung ke ibu. Udah nyoba berkali-kali, tapi mulut susah kebuka. Malah mata yang ga bisa nahan air yang jatoh.

Tuesday, May 24, 2011

Dear paper



Dear paper,

Tepatnya tanggal 20 mei 2005,
aku: Janik Ashifa menyatakan putus dengan pria bernama Bisma Anggadi Putera.
Makhluk yang biasa disebut cowok memang sulit diharapkan.