Only human. Wanna be better.



Thursday, January 17, 2013

Krisis Kepemimpinan


Belakangan ini saya merasa “dipaksa” merenungkan masalah kepemimpinan. Entah karena memang sedang musim pemilihan atau gimana. Tapi kenyataannya, secara berturut-turut saya disodorkan pada beberapa pertunjukan yang sama. Tuding-menuding mencari pemimpin.
Sebagai 'anak bawang' di tempat itu (karena memang baru bergabung di perkumpulan-perkumpulan tersebut) saya hanya bisa memperhatikan. Diam. Coba menelaah.

Mengapa? Mengapa begitu enggan mengemban amanah?
Berat dan tak mudah memang. apalagi dengan pangkat Pemimpin. Nomor Satu. Terdepan. Pasti bayangan tentang 'besarnya tanggung jawab menggiring pasukan' akan terbawa kemanapun pergi. Belum lagi harus sambutan ini-itu, menjadi wakil atas nama ini-itu. Tentunya memerlukan keberanian,  kepiawaian dan wibawa. Karena jika tidak, seperti yang juga sering saya temui, cibiran dan protes akan dengan mudahnya menampar langsung padanya. Hanya namanya yang terlihat. Sang Pemimpin.
Maka perlu satu lagi persyaratan terpenting untuk bisa lulus menjadi seorang pemimpin; Berjiwa besar. Karena seorang pemimpin diharapkan untuk selalu mau mendengar, meski yang di dengar lebih banyak protesnya ketimbang dukungan.

Hmm… Pantas saja kalau gitu sulit sekali mencari yang dengan ikhlas dan langsung mau ketika ditunjuk menjadi pemimpin.
Pada kasus-kasus yang saya temui ini, mereka justru marah. Kesal bukan main ketika ditunjuk. Bahkan ingin menagis. Mengancam akan keluar dari perkumpulan tersebut. Ada yang sampai mengatakan “jadi apapun mau, asalkan bukan pemimpin”.

Ternyata sebegitu mengerikannya sosok pemimpin itu ya.

Tapi ada satu yang aneh …

Tahun 2014 nanti, kalau tidak salah negara tercinta ini akan bersiap menjajal pemimpin baru. Dan sudah sejak beberapa bulan lalu, beraneka ragam billboard-billboard terpampang. Memamerkan calonnya masing-masing. Dengan berbagai promosi dan sensasinya. Sampai rela mengeluarkan milyaran -mungkin trilyunan- dana untuk itu.
Apa mereka tidak takut jadi pemimpin? Tidak takut diprotes rakyat se-negeri kalau kerjanya tidak becus? Tidak takut di tekan sana-sini karena selalu diharapkan menjadi yang terbijak di antara jutaan macam isi kepala?
Semoga semua itu telah terpikirkan sebelum memikirkan enaknya punya istana sendiri, lalu-lintas pribadi dan gaji besar-meski dari rakyat sendiri-. (Aamiin.)

Jadi teringat film yang baru ini saya tonton di bioskop. Tentang salah satu potensi besar Indonesia.
Bapak B.J. Habibie.
Saya tidak terlalu paham seluk-beluk beliau saat bergabung dalam kabinet Soeharto. Karena belum mau tahu, dan saat itu saya masih di sekolah dasar. Namun jika melihat film-nya, saya begitu salut akan pribadi beliau. Yang dengan siap melaksanakan tugas pemerintahan, dalam kondisi apapun. Bukan karena keinginan sendiri, namun demi mempertanggung-jawabkan kepercayaan yang telah diberikan kepada beliau. Bahkan saat harus cabut dari posisinya sebagai pemimpin pun beliau siap. Betapa inilah salah satu ciri muslim sejati.

Maka setelah perlahan melerai benang kusut dalam kepala ini, tampaknya saya mulai menyadari;
Bahwa apa yang kita bayangkan tak akan pernah sama dengan apa yang nanti kita jalani.
Karena dalam bayangan, semua hal hanya akan menjadi lebih sulit, atau malah terlalu remeh.
Dan sosok pemimpin yang baik bukanlah dia yang serba bisa dan paling pintar, melainkan dia yang mampu mempertahankan kepercayaan yang telah diberikan.

Berbahagialah mereka yang dipercaya untuk memimpin.


Maka dengan sebab rahmat (yang melimpah-limpah) dari Allah (kepadamu wahai Muhammad), engkau telah bersikap lemah-lembut kepada mereka (sahabat-sahabat dan pengikutmu), dan kalaulah engkau bersikap kasar lagi keras hati, tentulah mereka lari dari kelilingmu. Oleh itu maafkanlah mereka (mengenai kesalahan yang mereka lakukan terhadapmu), dan pohonkanlah ampun bagi mereka, dan juga bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan (peperangan dan hal-hal keduniaan) itu. kemudian apabila engkau telah berazam (sesudah bermusyawarah, untuk membuat sesuatu) maka bertawakalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Mengasihi orang-orang yang bertawakal kepadaNya. (Qs.3:159)

Thursday, August 9, 2012

LELAKI YANG KU CINTA


Pergi selalu bersama
Makan sepiring berdua
Siang membolong, malam melowong tanpanya.

Aku runyam dia tau.
Aku kesal dia terasa.
Aku marah dia sedih.
Aku sedih dia diam.

Tak akan tega membiarkannya pergi dariku.
Tak akan rela melepasnya lama dari dekapku.
Tak peduli yang lain jengkel akan ulahku.
Aku tetap mau ia terus disisiku.

Sampai nanti ia yang melepasku.
Sampai nanti ada yg lebih dicintanya dariku.
Sampai nanti aku cemburu.

Ia tetap lelaki yang kucinta.
Seerat tali yang menghubung kami saat ia singgah dalam rahimku.


Bubu loves you, Tsabit.


Sunday, May 6, 2012

Sudah Seharusnya Orang Tahu



Curhat tentang ‘The hard-line Islam Defender Font’




           “Aku mau minta bantuan ke FPI”

Kalimat yang keluar dari mulut suamiku siang itu sungguh membuat hati semakin runyam. Karena memang keluar dari mulut orang yang sedang runyam. Sudah seminggu ini perasaan takut mendera seluruh penghuni rumah kami. Sejak kedatangan enam preman (yang kebetulan bersuku ambon) datang mengancam kami dengan alasan yang tak mungkin kujelaskan di sini. Yang jelas, Orang tuaku, suamiku, dan aku sendiri --yang menjadi penadah tampias sasaran preman-preman itu-- berani berkata dengan tegas “kami tidak bersalah!”.

Thursday, February 2, 2012

Kenyataan Terkisah


Siang yang panas. Deru debu menguap di sepanjang terminal blok M.
Kehadiran Kopaja mengakhiri penantian separuh waktu di trotoar.
Masih tersisa beberapa bangku kosong. Kupilih yang dekat dengan pintu keluar agar kaki masih bisa bernafas lega meski masih harus menekuk.
Kopaja melaju lambat seperti gajah yang tak kuat menahan berat bobotnya sendiri.

Friday, January 20, 2012

BESAR PASAK DARIPADA TIANG



Guru menggoreskan kapurnya dengan lincah ke papan tulis.

Murid: Peribahasa juga bu?
Guru: Iya. Artinya adalah lebih besar pengeluaran daripada pemasukan.
Murid: boros dong?
Guru: betul. Lebih banyak kata yang keluar daripada yang masuk.

Murid mengernyitkan dahinya.

Tuesday, November 15, 2011

terakhir





Berguru pada belukar
Belum lagi pintar, jejak cabikan di kulit t’lah menyebar

Berniat maju berperang
Malamnya mati terbunuh teman seranjang

Tak mengapa aku di goa
Membawa semua senjata, pergi tidur tanpa mimpi
Lebih baik di sini
Sembunyi, menenangkan diri
Hanya Aku, dan Nurani






Saturday, October 8, 2011

kamu

Ini malam ke 260 setelah keputusan sidang itu. Leganya aku bisa lepas dari cengkramanmu. Tapi bencinya aku yang tak bisa melepaskan pikiran tentangmu.
Untuk apa aku peduli pada apa yang tak seharusnya kupedulikan...

Ku tarik laci meja, mengambil sebuah kertas remuk hasil remasanku sendiri. Kertas surat yang tak sanggup sampai ke tangan tujuannya. Kurapikan perlahan.
Dan mulai membaca...


Kamu perlu tahu.
Keputusanku ini sudah bulat.
Semoga kamu bisa mengerti.
Ini semua juga karena kamu.

Kamu yang egois. Tak mau peduli apa isi hatiku. Waktumu habis di meja kerja, ketimbang jalan bersamaku. 

Kamu hanya menuntutku untuk bersabar dan bersabar.

Selalu saja melarangku melakukan yang lebih dari kemampuanku.

Kamu terlalu cuek dan tak pernah punya keinginan untuk ku berikan hal yang spesial.

Kepalamu penuh dengan prinsip-prinsip yang sulit ku mengerti. Kemana jalan pikiranmu pun sulit kulacak.

Aku benci diam mu diantara jeritanku. 

Kamu biarkan aku tersiksa dalam penyesalan atas segala tuduhan yang ku semburkan padamu.

Kamu malah balas menyerangku begitu tajam dengan semua senjata cintamu.

Kamu begitu keras dan tak pernah mau menyerah untuk mempertahankan adanya kita.

Kamu sungguh nekat, berani mencintaiku. Sungguhpun kamu tahu, adalah aku seorang yang keras diluar namun lemah di dalam.

Dan kamu tega menjadikanku sasaran utama di setiap motivasi hidupmu.

Seenaknya saja kamu meluapkan keluhan tentang betapa tak bergunanya lagi semua, tanpa adanya aku.

Kamu terlalu pelit memberikan peluang untukku menemukan kurangmu.

Kamu dengan sembrono meninggalkan bekas-bekas kenangan indah di kepalaku.

Aku benci caramu mencintaiku. Aku benci menerima kenyataan bahwa aku pun mencintaimu. 
Jadi mungkin lebih baik aku keluar dari kehidupanmu.

Tak perlu kau sesalkan semua yang terjadi antara kita. Anggap saja tak ada. Tak pernah ada. Satu-satunya yang kusesali adalah saat aku mengenal cintamu. 



...Mataku memberat. Untuk kesekian kalinya kuyakinan diri, ada yang salah dengan tulisanku itu.

Ku angkat kepala tinggi-tinggi, menengadah ke atap rumah demi berjuang keras menahan gumpalan air yang menggenang di pelupuk mata. Sambil berharap gumpalan air ini adalah kamu. Yang masih terus hadir saat sedihku, seberapapun kuatnya penolakanku.
Ku tahan mata agar tak terpejam meski perih dan semakin memburam.
Karena jika sampai genangan itu keluar, maka mustahil untuk bisa masuk kembali.

Tahan air matamu... Tahan...