-Saat ada teman yang berkata "jilbab kan hanya tampilan. Kalau tampilannya bagus tapi isinya jelek ya percuma." Dalam hati ingin sekali menjawab, tapi siapalah aku... Sholatku juga masih telat, kadang lewat.
- Saat melihat teman dengan bebas meminum alkohol, aku hanya bisa menolak saat ditawarkan. Aku tidak mau dianggap sok suci kalau menasehati. Karena akupun masih banyak melakukan dosa.
- Saat melihat sepasang remaja bermesraan di taman, walaupun risih, aku menjauh saja. Itu kan hak mereka.
- ketika atas nama kreasi, mereka yg tdk percaya Tuhan membuat kreasi yang merendahkan Tuhan dan nabiku, lagi-lagi aku hanya bisa ber-istighfar. Berharap Allah yang akan membalasnya.
Lalu semakin sulit membedakan mana wanita muslim dan mana yg bukan. Karena mereka sama saja, lebih senang celana seksi, "toh itu bukan tindakan kriminal?!"
Lalu minuman keras sudah biasa. Karena selama tidak sampai memabukkan tidak akan membahayakan.
Lalu anak-anak pun melihat remaja-remaja bermesraan dengan bebasnya.
Saat itu semua terjadi anak-anak tidak tahu lagi mana yang benar. Karena Tuhan dan nabinya pun bisa dibuat main-mainan.
Relakah kita membiarkan semua itu terjadi?...
Terima kasih Habib Muhammad Rizieq Shihab.
Keberanianmu telah menginspirasi kami.
Untuk mau lebih membuka mata.
Berani bersikap!
demi kebenaran yang kita yakini.
...Meski masih banyak yang harus terus kami benahi dalam diri ini.
Sudah saatnya muslim bangkit!
Semoga Allah SWT. senantiasa meridhoi perjuanganmu wahai guru, meluruskan niatmu, menjaga ketulusanmu. Amin. Allahumma Amin.
Friday, November 25, 2016
Thursday, January 17, 2013
Krisis Kepemimpinan
Belakangan ini saya merasa “dipaksa” merenungkan masalah
kepemimpinan. Entah karena memang sedang musim pemilihan atau gimana. Tapi kenyataannya, secara berturut-turut saya disodorkan pada beberapa pertunjukan yang sama. Tuding-menuding mencari pemimpin.
Sebagai 'anak bawang' di tempat itu (karena memang baru bergabung di perkumpulan-perkumpulan tersebut) saya hanya bisa memperhatikan. Diam. Coba menelaah.
Sebagai 'anak bawang' di tempat itu (karena memang baru bergabung di perkumpulan-perkumpulan tersebut) saya hanya bisa memperhatikan. Diam. Coba menelaah.
Mengapa? Mengapa begitu enggan mengemban amanah?
Berat dan tak mudah memang. apalagi dengan pangkat Pemimpin. Nomor Satu. Terdepan. Pasti bayangan tentang 'besarnya tanggung
jawab menggiring pasukan' akan terbawa
kemanapun pergi. Belum lagi harus sambutan ini-itu, menjadi wakil atas nama
ini-itu. Tentunya memerlukan keberanian,
kepiawaian dan wibawa. Karena jika tidak, seperti yang juga sering saya
temui, cibiran dan protes akan dengan mudahnya menampar langsung padanya. Hanya namanya yang terlihat. Sang Pemimpin.
Maka perlu satu lagi persyaratan terpenting untuk bisa lulus menjadi seorang pemimpin; Berjiwa besar. Karena seorang pemimpin diharapkan untuk selalu mau mendengar, meski yang di dengar lebih banyak protesnya ketimbang dukungan.
Maka perlu satu lagi persyaratan terpenting untuk bisa lulus menjadi seorang pemimpin; Berjiwa besar. Karena seorang pemimpin diharapkan untuk selalu mau mendengar, meski yang di dengar lebih banyak protesnya ketimbang dukungan.
Hmm… Pantas saja kalau gitu sulit sekali mencari yang dengan
ikhlas dan langsung mau ketika ditunjuk menjadi pemimpin.
Pada kasus-kasus yang saya temui ini, mereka justru marah. Kesal bukan main ketika ditunjuk. Bahkan ingin menagis. Mengancam akan keluar dari perkumpulan tersebut. Ada yang sampai mengatakan “jadi apapun mau, asalkan bukan pemimpin”.
Pada kasus-kasus yang saya temui ini, mereka justru marah. Kesal bukan main ketika ditunjuk. Bahkan ingin menagis. Mengancam akan keluar dari perkumpulan tersebut. Ada yang sampai mengatakan “jadi apapun mau, asalkan bukan pemimpin”.
Ternyata sebegitu mengerikannya sosok pemimpin itu ya.
Tapi ada satu yang aneh …
Tahun 2014 nanti, kalau tidak salah negara tercinta ini akan
bersiap menjajal pemimpin baru. Dan sudah sejak beberapa bulan lalu, beraneka
ragam billboard-billboard terpampang. Memamerkan calonnya masing-masing. Dengan
berbagai promosi dan sensasinya. Sampai rela mengeluarkan milyaran -mungkin
trilyunan- dana untuk itu.
Apa mereka tidak takut jadi pemimpin? Tidak takut diprotes
rakyat se-negeri kalau kerjanya tidak becus? Tidak takut di tekan sana-sini
karena selalu diharapkan menjadi yang terbijak di antara jutaan macam isi
kepala?
Semoga semua itu telah terpikirkan sebelum
memikirkan enaknya punya istana sendiri, lalu-lintas pribadi dan gaji besar-meski
dari rakyat sendiri-. (Aamiin.)
Jadi teringat film yang baru ini saya tonton di bioskop.
Tentang salah satu potensi besar Indonesia.
Bapak B.J. Habibie.
Saya tidak terlalu paham seluk-beluk beliau saat bergabung dalam kabinet Soeharto. Karena belum mau tahu, dan saat itu saya masih di sekolah dasar. Namun jika melihat film-nya, saya begitu salut akan pribadi beliau. Yang dengan siap melaksanakan tugas pemerintahan, dalam kondisi apapun. Bukan karena keinginan sendiri, namun demi mempertanggung-jawabkan kepercayaan yang telah diberikan kepada beliau. Bahkan saat harus cabut dari posisinya sebagai pemimpin pun beliau siap. Betapa inilah salah satu ciri muslim sejati.
Bapak B.J. Habibie.
Saya tidak terlalu paham seluk-beluk beliau saat bergabung dalam kabinet Soeharto. Karena belum mau tahu, dan saat itu saya masih di sekolah dasar. Namun jika melihat film-nya, saya begitu salut akan pribadi beliau. Yang dengan siap melaksanakan tugas pemerintahan, dalam kondisi apapun. Bukan karena keinginan sendiri, namun demi mempertanggung-jawabkan kepercayaan yang telah diberikan kepada beliau. Bahkan saat harus cabut dari posisinya sebagai pemimpin pun beliau siap. Betapa inilah salah satu ciri muslim sejati.
Maka setelah perlahan melerai benang
kusut dalam kepala ini, tampaknya saya mulai menyadari;
Bahwa apa yang kita bayangkan tak akan pernah sama dengan apa yang nanti kita jalani.
Karena dalam bayangan, semua hal hanya akan menjadi lebih sulit, atau malah terlalu remeh.
Karena dalam bayangan, semua hal hanya akan menjadi lebih sulit, atau malah terlalu remeh.
Dan sosok pemimpin yang baik bukanlah dia yang serba bisa dan paling pintar, melainkan dia yang mampu mempertahankan kepercayaan yang telah diberikan.
Berbahagialah mereka yang dipercaya untuk memimpin.
Maka dengan sebab
rahmat (yang melimpah-limpah) dari Allah (kepadamu wahai Muhammad), engkau
telah bersikap lemah-lembut kepada mereka (sahabat-sahabat dan pengikutmu), dan
kalaulah engkau bersikap kasar lagi keras hati, tentulah mereka lari dari
kelilingmu. Oleh itu maafkanlah mereka (mengenai kesalahan yang mereka lakukan
terhadapmu), dan pohonkanlah ampun bagi mereka, dan juga bermusyawarahlah dengan
mereka dalam urusan (peperangan dan hal-hal keduniaan) itu. kemudian apabila
engkau telah berazam (sesudah bermusyawarah, untuk membuat sesuatu) maka
bertawakalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Mengasihi orang-orang yang
bertawakal kepadaNya. (Qs.3:159)
Thursday, August 9, 2012
LELAKI YANG KU CINTA
Pergi selalu bersama
Makan sepiring berdua
Siang membolong, malam melowong tanpanya.
Aku runyam dia tau.
Aku kesal dia terasa.
Aku marah dia sedih.
Aku sedih dia diam.
Tak akan tega membiarkannya pergi dariku.
Tak akan rela melepasnya lama dari dekapku.
Tak peduli yang lain jengkel akan ulahku.
Aku tetap mau ia terus disisiku.
Sampai nanti ia yang melepasku.
Sampai nanti ada yg lebih dicintanya dariku.
Sampai nanti aku cemburu.
Ia tetap lelaki yang kucinta.
Seerat tali yang menghubung kami saat ia singgah dalam rahimku.
Bubu loves you, Tsabit.
Sunday, May 6, 2012
Sudah Seharusnya Orang Tahu
Curhat tentang ‘The hard-line Islam Defender Font’
“Aku
mau minta bantuan ke FPI”
Kalimat yang keluar dari mulut suamiku siang itu sungguh membuat hati semakin runyam. Karena memang keluar dari mulut orang yang sedang runyam. Sudah seminggu ini perasaan takut mendera seluruh penghuni rumah kami. Sejak kedatangan enam preman (yang kebetulan bersuku ambon) datang mengancam kami dengan alasan yang tak mungkin kujelaskan di sini. Yang jelas, Orang tuaku, suamiku, dan aku sendiri --yang menjadi penadah tampias sasaran preman-preman itu-- berani berkata dengan tegas “kami tidak bersalah!”.
Kalimat yang keluar dari mulut suamiku siang itu sungguh membuat hati semakin runyam. Karena memang keluar dari mulut orang yang sedang runyam. Sudah seminggu ini perasaan takut mendera seluruh penghuni rumah kami. Sejak kedatangan enam preman (yang kebetulan bersuku ambon) datang mengancam kami dengan alasan yang tak mungkin kujelaskan di sini. Yang jelas, Orang tuaku, suamiku, dan aku sendiri --yang menjadi penadah tampias sasaran preman-preman itu-- berani berkata dengan tegas “kami tidak bersalah!”.
Thursday, February 2, 2012
Kenyataan Terkisah
Siang yang panas. Deru debu menguap di sepanjang terminal blok M.
Kehadiran Kopaja mengakhiri penantian separuh waktu
di trotoar.
Masih tersisa beberapa bangku kosong. Kupilih yang
dekat dengan pintu keluar agar kaki masih bisa bernafas lega meski masih harus
menekuk.
Kopaja melaju lambat seperti gajah yang tak kuat
menahan berat bobotnya sendiri.
Friday, January 20, 2012
BESAR PASAK DARIPADA TIANG
Guru menggoreskan kapurnya dengan lincah ke papan tulis.
Murid: Peribahasa juga bu?
Guru: Iya. Artinya adalah lebih
besar pengeluaran daripada pemasukan.
Murid: boros dong?
Guru: betul. Lebih banyak kata
yang keluar daripada yang masuk.
Murid mengernyitkan dahinya.
Tuesday, November 15, 2011
terakhir
Berguru pada belukar
Belum lagi pintar, jejak cabikan di kulit t’lah menyebar
Berniat maju berperang
Malamnya mati terbunuh teman seranjang
Tak mengapa aku di goa
Membawa semua senjata, pergi tidur tanpa mimpi
Lebih baik di sini
Sembunyi, menenangkan diri
Hanya Aku, dan Nurani
Subscribe to:
Posts (Atom)
